0
Posted by Aisyah Barhutin on Friday, June 27, 2008 in
Quotes Myspace Comments
MyNiceSpace.com

0

Luna Maya oh Luna Maya....

Posted by Aisyah Barhutin on Friday, June 27, 2008 in
"Biar kata mirip buaya, bagiku kau Luna Maya, ow ow, i love you bibeh..."
Lagunya cangcuters yang bikin kita teringat sesuatu... Dulu waktu adik Naya baru lahir, eyangnya pernah bilang "mirip banget sama kak Ida, nih" (maksudnya ine Ida). Tapi sebulan kemudian eyangnya bilang "Adik Naya nih, persis banget kaya Luna Maya. Matanya bulat, bibirnya tipis!" (yaah... walaupun hidungnya agak sedikit minimalis, hehe...) Kalau kita ambil kesimpulan cepat, berarti ine ida mirip banget sama luna maya, atau dek naya adalah hasil klon antara ine ida dan luna maya, hehe.... jangan marah ya ine....
Dan entah kenapa adik naya juga seneng banget nyanyi i love you bibeh ini, katanya "bagiku kau bu papaya..." Akhirnya... karena adik naya sama sekali gak mirip buaya (she's our perfect angel!) dan luna maya cukup lumayan untuk disamakan dengan adik Naya ;-) lagu itu pun kita ganti "biar kata hidungnya gak ada, bagiku kau luna maya..." hehe.......

0

Aa Rama outbond

Posted by Aisyah Barhutin on Friday, June 27, 2008 in
Tgl 21 juni kemarin Aa Rama ada acara outbond sama teman-teman sekolahnya. Udah kebayang kan gimana reaksi Aa? Daridulu Aa Rama kan paling senang sama segala sesuatu yang membuat dia bisa bergerak bebas. Sejak dua minggu sebelum acara udah kedengaran tuh celotehnya tentang rencana outbond sama teman-temannya. Semuanya dikupas secara tuntas! hehe…
Selain outbond ada acara perpisahan sama murid-murid red class atau TK B yang mau lanjut ke SD, juga pembagian LPA term 4. Berhubung abinya berhalangan hadir akhirnya Aa berangkat sama ummi dan adik Naya. Kita kumpul dulu di Global Creative School jam 8 pagi. Trus berangkat sama-sama ke Super Kids Camp di jatinangor. Sampai di SKC, Aa Rama dan teman-temannya di guide langsung sama instruktur di SKC. Kebetulan waktu itu rameeeee banget. Karena barengan sama rombongan TK lainnnya. Tapi Alhamdulillah kita dapat base camp yang nyaman , lumayan besar, 2 tingkat, plus kamar mandi, di dekat rumah pohon. Sayangnya abi gak bisa ikut……..
Ummi dan para ibu-ibu lainnya kumpul untuk pembagian LPA. Alhamdulillah…. Perkembangan Aa di sekolah bagus.Disitu juga Bu Yenny, guru Aa pamitan, karena tidak bisa terus mengajar di Global. Banyak ibu-ibu yang nangis… ummi juga sebenarnya sedih, tapi mau gimana lagi… Bu Yenny membuat keputusan itu pasti didasari dengan alasan yang kuat. Sebenarnya, arti Bu Yenny buat ummi…. So special…Bu Yenny sabar banget menghadapi Aa… padahal ummi sendiri sering marah sama Aa… maafin ummi ya, nak….Ummi berharap sih Bu Yenny tetep keep in touch deh sama kita… Setidaknya, ummi jadi ngerasa punya adik perempuan di Bandung, hehe….
Lanjut ke kegiatan Aa Rama di SKC… pendek kata semua permainan mereka ikuti. Dari mulai tanam padi, masuk labirin, flying fox mini dan maxi(?), jembatan gantung, naik rakit, tangkap ikan, dll. Semuanya Aa ikuti dengan full semangat! Gak ada satupun yang lewat. Ya iyalaaaaah….. Aa rama, gitu lho…. Hehe… walaupun di sesi tangkap ikan Aa gak berhasil dapat ikan satupun, karena jumlah anak yang nyebur lebih banyak daripada ikannya, hihi….. tapi di permainan yang lain… semua lewat, deh. Setiap mau mulai dia selalu bilang “Aku siap menghadapi tantangan!” weeeh…. Kebayang gak gimana ekspresinya waktu bilang gitu? Ya pasti ala pahlawan bertopeng, hehe..
Ada satu hal yang unik yang ummi temukan ketika Aa ikut outbond. Bukan soal Aa rama, kalau dia sih tidak usah diragukan lagi keberaniannya dalam hal begituan, di flying fox aja dia minta giliran pertama! Padahal lumayan tinggi, setinggi pohon kelapa lah….(tapi pohon kelapanya umur berapa bulan?hihi..) Yang ummi bilang unik justru adik Naya… selama ini kita kenal adik Naya tuh anak yang kalem tapi galak, susah senyum, dan maunya nempel terus sama ummi atau abi. Tapi percaya atau tidak… disana dia semangat kaliiiiii… ummi lihat dari mata nya yang udah mulai blink blink gitu deh. Trus juga waktu ummi ngobrol sama ibu-ibu yang lain, tiba-tiba dek naya gak ada…. Tau-tau dia udah dipinggir jembatan gantung dan udah siap-siap mau nyebrang. Juga pas ummi terima telpon dari abi, adik menghilang lagi. Ternyata dia udah ngantri di pinggir kolam mau ikutan naik rakit, ikutan nangkap ikan, ikut ini ikut itu, pokoknya hamper semuanya dia pengen ikut. Dan terakhir waktu lihat Aa rama meluncur dari flying fox dia ngambek gara-gara ummi pegangin waktu dia mau naik tangga keatas, pengen ikutan juga! Akhirnya Bu Yenny dengan sukarela mau jagain adik dan ajak adik di permainan yang relatif aman dan tidak basah. Sebenarnya gak papa juga adik Naya ikutan nyebur sana nyebur sini, tapi masalahnya ummi gak bawain baju ganti buat adikL ya udahlah…. Mungkin lain kali, ya dik….
Sayangnya, sekali lagi…. Abinya gak bisa ikut. Abi datang jemput kita waktu Aa menyelesaikan ‘tantangan’ terakhirnya. Jadi gak sempat lihat jagoan kita beraksi, deh… trus kita pulang dengan tenang dan kenyang, karena kita udah bawa bekal dari rumah. Aa mau makan sendiri diatas rumah pohon barengan sama teman-temannya. Kita sampai rumah sekitar jam 2 siang. Mati listrik. Setelah anak-anak ganti baju, mereka langsung pules deh… capek ya, nak?

0

Aa Rama Camping

Posted by Aisyah Barhutin on Friday, June 27, 2008 in
Tanggal 6 juni kemarin Aa rama ikut camping di sekolah. Ini pengalaman pertama Aa pergi sendiri tanpa ummi dan abi. Campingnya di sekolah aja, sih. Dan cuma satu hari. Sebelum berangkat, dia dengan pe-de nya bilang, “Ummi jangan sedih, ya… Aa gak lama,kok. Cuma ditinggalin sehari aja.” Katanya dengan raut muka kaya bapak-bapak yang mau ninggalin anaknya perang. Jam 4 sore kita antar Aa Rama kesekolah, trus kita cabut ke rumah ummi Irma buat pinjam sleeping bag. Trus kita balik lagi ke sekolah Aa. Sampai disana kita lagi lihat Aa Rama shalat berjama’ah dan dia lagi jadi imam. Aduh, campur aduk deh rasanya… seneng, terharu, bangga… ternyata anak kita udah gede…
Selesai antar sleeping bag kita pulang. Dalam hati ummi was-was takut ada yang terlewat yang belum ummi ceritakan ke Bu Yenny tentang kebiasaan Aa sebelum tidur. Tapi kaya’nya udah semua, deh… ummi udah bekalin susu dan buku cerita… akhirnya ummi sms aja Bu Yenny supaya menghubungi ummi sewaktu-waktu… ummi tunggu sampai jam 10 malam, gak ada telpon atau sms. Kaya’nya udah aman jadi umminya tidur, deh. Tapi pagi-pagi ummi lihat di hp ada 3 message, 2 miscall, jam 11 malam! Siapa, nih? Dari Bu Yenny. Ada apa? Ternyata Aa Rama gak bisa tidur sampai jam 10.30 malam. Tapi jam 11 Bu Yenny sms kalau Aa udah tidur nyenyak. Kita jadi mikir, kenapa yaaa? Ooooo…. Kita baru ingat kalau Aa Rama tuh punya kebiasaan agak aneh sebelum tidur. Dia suka nempelin perutnya ke dinding. Jadi dia buka bajunya trus perutnya ditempelin ke dinding, gitu… baru dia tidur. Kita jadi ingat waktu kita ke tasik beberapa hari yang lalu, Aa Rama juga gak bisa tidur. Kasusnya sama, dia gak bisa nempelin perut ke dinding! Di tasik tempat tidurnya kan gak nempel ke dinding dan waktu camping dia tidur di tenda. Kalau teman-temannya ada yang bawa boneka, bantal atau guling kesayangan, masa Aa harus bawa dinding?

0

Laa Tahzan... Don't Worry, Be Happy !!!

Posted by Aisyah Barhutin on Saturday, May 17, 2008 in
We were born to be optimistic, but studies show that we’re an increasingly pessimistic society. These same studies show that many people are almost conducted as pessimistic and. This pessimism can be the result of our backgrounds in relationships or in other areas of life. More often, however, pessimism has deep roots, taking shape early in our life.Fortunately, we understand the roots of this pessimism much better than we did even a few years ago. And, we now know how to turn a gloomy and defeatist our selves into an enthusiastic and confident one.Unfortunately, much of this research hasn’t filtered down to our leaders, who often lack the tools to help our troubled and pessimistic society. Yet, studies show that there are five steps that we can take to help them having more upbeat view of life.
1. Teach Optimism.A big idea that has emerged recently is that optimism, the good news is that optimism can be re-embraced at any stage of life. Even someone with a deeply ingrained sense of pessimism can learn optimism by being surrounded by people who don’t share his or her gloomy outlook on life.
Tip for teaching optimism: Encourage him or her to talk about it and show your love and support whatever the problem. Avoid blame and un-requested advice.

2. Model Good Relationships.Humans, are relationship-forming creatures. We thrive when our relationships are good, and we tend to experience pessimism and depression (and even physical illness) when our relationships turn sour. Personal relationships aren’t the only things that matter. As young kids, we gain an optimistic attitude when the relationships between our parents or caregivers are loving and supportive. Similarly, we learn and develop optimism or pessimism largely by the way those adults around us relate to each other and to us. Pessimism often originates from a parent or caregiver who doesn’t demonstrate love, or who doesn’t support kids or other adults. But, again, recent research has shown the potential good news. If caregivers improve their relationship with one another, then the people (no matter what age) also experience improved relationships and become more optimistic.
Tip: Examine the state of your personal relationships. How can they be improved?

3. Take Charge of the Media.Heads of marketing departments in major corporations and creators of their advertisements have said that nothing sells like pessimism. Research has shown that the younger the audience members, the more receptive they are to these essentially downbeat messages. Even 1 year olds can be influenced by TV ads! Media-savvy teens, however, are more likely to be able to withstand this onslaught and remain optimistic.
Research has also shown that violent films, songs and computer games engender pessimism and depression. Yet less than 5 percent of families in Indonesia have any rules as to what their members watch or what video games they play. Again, there is good news: Uplifting TV shows, Web sites and movies actually engender optimism in people. But there’s a catch. It’s no good if a caregiver suggest watching less violent shows if they addicted to gory programming. Walk the talk, caregivers!
Tip: Talk to your adolescents, explaining how advertisers seek to persuade them. Monitor what games come into the house or are downloaded from the Web. Have firm rules as to what shows the family may watch.

4. Create a Firm Set of Family Valuesone of the most interesting pieces of information to emerge from recent studies is the connection between a strong grasp of family values and people’s optimism. These values can be secular or religious. People from families who have a strong value system are also less likely to take drugs or alcohol, smoke or indulge in risky or premature sex. The importance of values has been declining in the nation (despite the growth in religious beliefs). Many researchers point to this as a main reason for the exponential rise in people pessimism, depression and even suicide.However, it’s never too late to install values. Sit down and have a values “pow-wow” with your family (or with your kids). Decide what your core values are, and work out practical steps to promote the values with each other and within the community.
Tip: The earlier you begin the values process, the more optimistic your people/family will be.

5. Instill a Culture of Praise.The simplest thing you can do to engender optimism in your family or society is to praise them! The tragedy is that so few caregivers do give praise.There are three kinds of praise, and each is important if you want to have an optimistic and resilient family or society
•“What” praise: praise for doing something well, such as passing the exam, winning the competition, overcoming the obstacle.
•“How” praise: praise for the way someone does things. Praise your friend for the effort he contributes (even if he doesn’t succeed). Praise the way he went about things or his ingenuity.
•“Who” praise: Praise your friends, people for just being who they are. For example “I really like having you around!” or “You’re such a fun friend!”We all need praise, which are going through one of the most difficult transitions of their lives, need it more than most. The good thing about praise— unlike the other steps to getting a teen from pessimism to optimism— is that it’s easy to do and the results can be spectacular.
Tip: Begin a culture of praise that includes the whole family.

Copyright © 2009 Basya Mandaka, Love and Life All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.